Rabu, 16 Oktober 2013

APA ITU FILSAFAT


   A. Pengertian filsafat
            Kata filsafat berasal dari kata ‘philosophia’ (bahasa Yunani), diartikan dengan ‘mencintai kebijakan’. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah ‘philosopy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’, yang biasa diterjemahkan dangan ‘cinta kearifan’.[1]
            Istilah philosophia memiliki akar kata philen yang berarti mencintai dan sophos yang berarti bijaksana. Jadi dapat disimpulakan bahwa istilah philosophia  berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat bijaksana. Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa filsafat adalah mencinta kebijaksanaan. Sedangkan orang yang berusaha mencari kebijaksanaan atau pencinta pengetahuan disebut dengan filsul atau filosof. Filosuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tegasnya Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran dengan lebih mendalam.
            Sebenarnya sumber dari ilmu filsafat itu sendiri adalah manusia. Dan dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat berusaha keras untuk mencari kebenaran dan akhir dari pencarian kebenaran itu sendiri. Karena untuk mencari kebenaran ini sangatlah susah butuh waktu yang lama untuk menemukanya.
Berikut adalah pengertian filosof dan para ahli :
1.      Pythagoras (572 – 497 SM) Orang yang pertama-tama menggunakan istilah filsafat adalah Phytagoras. Ketika itu ia ditanya oleh  Leon tentang pekerjaanya, ia menjawab sebagai philosophis. Pythagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdom. Menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pencinta kebijakan(lover of wisdom), sedangkan wisdom adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan.
2.      Socrates (427 - 347 SM)
Ia adalah seorang filosof dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada zaman Yunani kuno. Socrates berpendapat bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principels of the just life).
3.      Plato (427 – 347 SM)
Ia adalah murid Socrates, menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Dalam karya tulisnya Republika, kebenaran( visionof truth.) filsafat plato dikenal dengan sebuatan Filsafat Spekulatif.
4.      Aristoteles (384 – 347 SM)
Aristoteles adalah seorang murid Plato yang terkemuka. Dalam hal pandangan di sering sekali berseberangan dengan dengan gurunya, tapi pada prinsipnya ia hanya mengembangkan paham-paham yang dikemukakan oleh gurunya tersebut. Menurut Aristoteles, filsafah adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan esterika.
5.      Rene Descartes (1596 – 1650 SM)
Ia mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
6.      Francis Bacon (1561 – 1621 SM)
Seorang filosof Inggris menggemukakan metode induksi yang berdasarkan pengamatan dan percobaan menemukan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Ia menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the science).[2]
Dan masih banyak lagi ilmuan yang menjabarkan tentang pengertian filsafat itu sendiri.
Berbagai perumusan itu tidak dapat dikatakan bahwa yang satu salah dan yang lainya benar. Napaknya semua perumusan itu sama benarnya karena masing-masing melihat dari salah satu pokok persoalan, permasalahan, titik berat. Dari segi tujuan atau metode yang dianut oleh seorang filosof atau suatu aliran filsafat.

B.     Manfaat Mempelajari Filsafat
Dengan mendefinisikan pengertian filsafat itu sendiri sebenarnya sudah dapat digambarkan bagaimana manfaat mempelajari ilmu filsafat tersebut. Dengan mempelajari ilmu filsafat paling tidak kita bisa mendapat tiga manfaat. Pertama, filsafat memberi pelajaran kepada kita untuk mempelajari diri kita secara totalitas, sehingga kita dapat memahami hakikat diri kita sebagai manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya. Filsafat mengajarkan kita agar terlatih untuk berfikir serius, berfikir secara radikal serta mengkaji sesuatu sampai ke akar-akarnya.
Berfilsafat adalah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius, dan mendalam itu adalah salah satu cirinya. Kemampuan berfikir sangat diperlukan oleh orang biasa, terlebih bagi orang-orang yang memegang posisi penting dalam membangun dunia, memimpin masyarakat, ataupun menjadi pemimpin dalam pemerintahan. Dan semua itu membutuhkan latihan yang berkelanjutan dan teratur. Kemampuan ini akan memberikan bekal yang berharga dalam upaya menyesaikan masalah secara serius, mengemukakan akar dari suatu masalah dan menemukan sebab terakhir dari suatu persoalan.
            Kedua, filsafat mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Pada dasarnya berfikir filsafat ialah berusaha untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional dalam rangka memahami segala sesuatu, termasuk diri manusia itu sendiri.
Setiap orang tidak perlu mempelajari filsafat. Akan tetapi, orang yang ingin berpartisipasi dalam membangun dunia perlu mengetahui ajaran-ajaran filsafat karena dunia dibentuk oleh dua kekuatan yaitu kekuatan; agama dan atau filsafat.
            Ketiga, filsafat mengajarkan tentang hakikat Tuhan. Dengan pemahaman yang mendalam dan dengan daya nalar yang tajam maka, akan sampai pada kekuatan yang mutlak yaitu Tuhan[3].

C.    Sejarah Lahirnya Filsafat   
            Sejarah lahirnya dan berkembagnya filsafat sama tuanya dengan sejarah lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan yagn muncul pada masa peradaban kuno. Asal muasal lahirnya filsafat adalah dalam upaya mencari kebenaran dan menyelidiki hakikat yang sebenarnya mengenai segala suatu secara sungguh-sungguh dan mendalam untuk mencari kebenaran.
            Sejarah filsafat adalah uraian suatu peristiwa yang berkaitan dengan hasil pemikiran filsafat. Di dalamnya memuat berbagai pemikiran kefilsafatan yang beraneka raga, mulai dari zaman pra-Yunani atau sering disebut dengan zaman kuno hingga sampai zaman modern.
            Tujuan mempelajari ilmu filsafat itu sendiri ialah untuk mengetahuai ragam pemikiran-pemikiran para filosof atau ahli fikir dari zaman dahulu hingga sekarang. Didalam sejarah filsafat akan diketahui pemikiran yang cemerlang hingga pemikiran tersebut dapat menggubah dunia melalui ide-ide dan gagasan yang monumental.
            Sudah naluri manusia untuk mengetahui segala sesuatu yang ada bahkan mungkin sesuatu yang tidak ada. Namun demikian, sekalipun penyelidikan orang dalam ilmu sudah sangat mendalam, tapi belum sedalam-dalamnya, karena tujuanilmu bukan untuk menggali objek sedalam-dalamnya, ia membatasi diri. Adapun batasanya adalah pengalaman. Tentu saja tidak selalu panggilan itu tercapai, jadi ada batasanya, tetapi ia diusahakan supaya keterbatasannya lenyap dan tenaganya dicurahkan supaya tercapi kebenaran.
            Berbeda dengan ilmu, filsafat berusaha mencari kebijaksanaan, menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala sesuatu, usaha mencari sebab dan keterangan yang sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu yang mungkin ada karena filsafat mempelajari sesuatu yang ada dan bahkan mungkin yang tidak ada. Filsafat dianggap sebagai pedoman hidup dikarenakan filsafat mempelajari tentang ringkasan segala sesuatu yang menyagkut soal kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan sesudah ini.
            Memperhatikan tujuan filsafat yang sangat mulia ini, maka  timbul pertanyaan: dapatkah filsafat memberi jawaban atas segala persoalan atau masalah yang ada?  Pada prinsipnya filsafat dapat menyelesailan persoalan atau masalah dan jika belum maka akan terus diusahakan. Namun filsafat hanya menggunakan pemikiran belaka, maka ilmu filsafat juga masuk kedalam ilmu agamakarena agama memberikan ilmu yang lebih tinggi karena hal itu tidak dapat dicapai oleh budi dan hanya bisa diperoleh dari wahyu. Apa yang di wahyukan oleh Tuhan harus dipercaya. Oleh sebab itu, agama sering disebut dengan kepercayaan atau keyakinan. filsafat tidak mengingkari adanya wahyu tapi pemikiran filsafat tidak didasarkan pada wahyu tetapi pada penyelidikan sendiri atau hanya dengan pemikiran belaka. Mugkin ada beberapa hal yang masuk kewilayah agama juga diselidiki oleh filsafat, namun antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan karena pada hakikatnya kedua disiplin ilmu tersebut mempunyai kebenaran, dan kebenaran itu satu. Lapangan agama dan filsafat itu mungkin sama tapi memiliki dasar yang berlainan; filsafat berdasarkan pemikiran belaka dan agama berasal dari wahyu.
            Dalam sejarah filsafat biasanya filsafat Yunani disebut sebagai pangkal sejarah filsafat barat. Di tanah Yunani sejak lama, sebelum permulaan tahun masehi, yaitu tepatnya pada enam abad sebelum masehi, ahli-ahli pikir mencoba menerka tentang adanya alam semesta. Mereka mencari tentang asal muasal alam semesta beserta isinya dengan menggunakan budi.
            Pada abat ke-6 sebelum masehi(SM) bermunculan para pemikir yang kepercayaanya bersifat rasional seperti Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain. selanjudnyapada abad pertengahan, dimana filsafat ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Filsafat ini di dominasi dengan agama, sehingga corak filsafatnya bercorak teosentris[4]
Pada abad ke-6 pemikiran tersebut sudah berubah, tidak hanya terpaku pada dogma agama. Pada saat itu dikembangkan sekolah yang memberi pelajaran grametika, dialektika, geometri, aritmatika, astronommi, dan musik. Keadaan ini mendorong pemikiran filsafat abad ke-13, ilmu pengetahuan berkembang pesat sampai runtuhnya kerajaan islam di Granda Sepanyol tahun 1492. Masa berikutnya dalam sejarah filsafat dikenal dengan nama abad modern.


[1]A.susanto, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2011), hlm. 1
[2]Ibid, hlm.2-3 
[3]Ibid, hlm.17-18
[4]Ibid, hlm.30-33